Ballet : Rasa Suka Itulah "Bakat"
Di posting ini gw sekedar mau sharing sebuah artikel hasil wawancara seorang temen yang sedang tinggal di Jepun juga, yang berkunjung ke sebuah sekolah ballet di Tokyo.
Ngebaca artikel ini bikin gw jadi inget ke masa2 waktu gw masih umur 8-22 tahun (+15 tahun) pas gw ngejalanin kegiatan/les yang dibahas di artikel ini yang pada akhirnya (sampe sekarang) berubah jadi hobi. Yap! apalagi kalo bukan ballet...yang pada saat itu gw lakonin di sekolah ballet Namarina pusat, yang selama gw les itu ada di Jl.Cimahi, Menteng, Jak-Pus.
Gw merasa beruntung banget ya waktu les gw ngga putus di tengah jalan dalam waktu yang singkat, dalam kata lain pas masih usia anak2 udah disuruh berhenti sama Nyokap dengan alasan ngelihat anak-nya ngga bakat...Thanks Mom!!...Kalo sampe akhirnya gw mutusin buat berhenti pas umur 22 tahun, itu murni karena keinginan gw sendiri & bukan karena gw ngerasa ngga bakat *weiittzz...narsis gitu lhooo...hahaha...ngga mungkin banget kan? hahaha...just kidding ;))*...waktu itu gw bener2 udah gave up ngga bisa bagi waktu lagi buat ngejalanin les ballet itu sebagaimana mustinya, gara2 jadwal kuliah & jaga2 malem kuliah di FK udah makin padet & cuappeekk banget...mau melangkah ke 1 tingkat lagi yang merupakan tingkat paling akhir buat bisa dapet sebuah gelar di sekolah ballet itu pun gw ngerasa udah ngga bakal mungkin deh dengan cara les gw saat itu...nyeraahhhh!! *angkat 2 tangan*
Ya sutzzz...silaken dibaca artikel ini yang mungkin bermanfaat buat para ibu2 yang punya anak2 cewek yang akan or sedang diberikan les ballet juga...
Buat adek gw (Melon), temen2 gw di Namarina yang ada di FS ini (Marcooo...Triaaa...Della-Letta...Rialita...Ade Sri...Debbie...Ipit...de el el...) & temen2 lain yang pernah ngerasain les serupa, ditunggu banget komen2nya lhooo...
================================================================
Apakah Bakat Menari Balet Itu?
Kaki dan Tangan yang Pendek, Badan yang Kaku... Bukan Hal Penting.
Semangat Untuk Terus Latihan Itulah "Bakat".
Bentuk Tubuh Akan Terbentuk Dengan Balet.
Yang Penting Adalah Tidak Berhenti.
Kaki dan tangan yang panjang, kepala yang kecil, badan dan kaki yang lentur...
Bukankah
balet adalah genre yang menuntut bakat yang luas: bentuk tubuh,
koordinasi motorik, sense terhadap ritme? Dengan pertanyaan ini di
dalam hati, kami mengunjungi Sekolah Balet Matsuyama (Tokyo) yang mungkin
menjadi idaman setiap ibu yang ingin anaknya menarik balet.
Berikut pendapat guru-guru balet yang mengasuh kelas untuk anak-anak.
"Untuk
balet, bentuk badan maupun koordinasi motorik tidak terlalu penting,"
demikian kata mereka dengan tegas. Eh, tetapi, kami mendengar bahwa
teater balet di Rusia bahkan memeriksa bentuk tubuh kakek dan nenek
calon penari lho?
"Mungkin pada zaman dulu ada juga kelompok balet yang seperti itu (tertawa), tetapi kelompok balet kami tidak menilai berdasarkan bentuk tubuh. "
Agaknya dalam kelompok balet Matsuyama, ada penari yang tinggi juga pendek ya?
"Dengan keajaiban panggung, ketidakseragaman bentuk tubuh penari menjadi tidak kentara. Apalagi anehnya, dalam proses berlatih, anak-anak tumbuh menjadi 'bentuk tubuh balerina' ."
Kalau begitu, apa bakat yang diperlukan untuk menjadi balerina?
"Perasaan 'menyukai balet' ".
Suka balet? Hanya itu saja?
"Yang paling penting dalam balet adalah terus menari. Ini pasti tidak bisa dilakukan tanpa adanya perasaan 'suka'. Para orang tua yang memasukkan anaknya kursus balet sering mengatakan, 'Anak saya tidak berbakat balet' . Tetapi sebenarnya tidak boleh memutuskan seenaknya begitu. Selama usia kanak-kanak dan SD, sama sekali belum mulai apa-apa."
Pupuklah "Jiwa yang Mudah Mengagumi Keindahan" Sebagai Fondasi Kemampuan Berekspresi
Dalam Teater Balet Matsuyama, dikenal Yoko Morishita yang menjadi kepala juga prima balerinanya. Morishita sangat menyukai balet sehingga pada saat kelas 6 SD, ia memutuskan untuk menjadikan balet sebagai profesinya seumur hidup. Lalu ia keluar dari Hiroshima menuju ibukota, Tokyo.
"Saya berharap semakin banyak orang yang bertekad kuat seperti ini. Memang niat si anak sendiri adalah segalanya. Sering terjadi anak-anak yang minta libur balet sebentar karena ada ujian masuk SMP maupun SMA. Tetapi itu sebenarnya sebagian besar permintaan orang tua. Dalam kejadian seperti itu, kami selalu menanyakan kepada si anak sendiri apakah tidak bisa menyediakan 1-2 jam latihan setiap pekan. Pada usia ini jiwa dan raga anak sedang dalam puncak pertumbuhan.
Oleh sebab itu, kami ingin orang tua memikirkan kelanjutan latihan balet bagi anak-anaknya. Orang tua hendaknya mengizinkan anak-anak melanjutkan, agar tidak merampas tunas perasaan 'ingin menari' anak. "
Apa yang bisa dilakukan orang tua pada masa kanak-kanak?
"Sedapat mungkin, perdengarkan banyak musik. Menguasai sense irama sangat penting dalam balet. Dengan mendengarkan musik, akan terbentuk kemampuan bagaimana harus mengekspresikan musik itu dalam gerakan.
Kemudian, kalau bisa, perlihatkan pertunjukan balet yang sebenarnya sejak masa kanak-kanak. Bukannya sayang uang karena toh ia masih kecil, tetapi karena ia masih kecil harus diberikan kursi yang dekat dengan panggung. Judul pertunjukan boleh apa saja, tetapi saya merekomendasikan 'Cinderella' atau 'Boneka Pembelah Kenari' yang mudah dipahami."
Terakhir, para guru senada menggarisbawahi bahwa yang paling penting adalah 'menumbuhkan jiwa yang kaya'.
Misalnya saat melihat bunga, jika anak bisa berpikir, 'Bunga ini cantik ya.' 'Aku ingin menjadi seperti bunga ini.' maka pada saat latihan, saat pelatih mengatakan, "Mari menjadi bunga", imajinasi ini akan berkembang di dalam jiwa si anak. Pada usia kanak-kanak saat ini, hendaknya orang tua menumbuhkan 'jiwa' yang akan menjadi dasar kekayaan ekspresinya."









最近のコメント