by Agnes Tri Harja... on Wed, 2004-11-03 04:29
Menemani
suami mengenyam pendidikan di negeri Belanda, seolah merupakan
kenyataan yang menyenangkan dan membuat iri banyak orang. Namun,
mengalaminya tidak lah semudah yang dibayangkan. Apalagi bagi para ibu
yang mempunyai anak berusia balita dan terbiasa bekerja di Indonesia.
Jika tidak diantisipasi, hal ini bahkan bisa mempengaruhi keberhasilan
belajar sang suami. Tak dapat dipungkiri bahwa belajar di luar negeri
bagi mereka yang membawa keluarga mempunyai beban tersendiri. Di negeri
ini, hanya mahasiswa PhD yang umumnya bisa membawa keluarga. Selain
karena lamanya studi yang memakan waktu 4 sampai 5 tahun, jumlah
beasiswa yang didapat juga relatif mencukupi untuk bisa membawa
keluarga. Dalam kondisi seperti ini istri memegang peranan kunci dalam
kesuksesan belajar suami serta menjaga kualitas keharmonisan keluarga.
Pepatah Inggris mengatakan �If mommy happy everyone happy, but if
mommy sad everyone sad� (jika ibu bahagia, semua orang bahagia, namun
jika ibu sedih, semua orang akan turut bersedih). Pepatah ini memang
terbukti disini. Suami tidak akan dapat belajar dengan tenang ketika
istri selalu sedih, marah-marah, dan tak dapat mengurus suami serta
anak-anaknya dengan baik. Sebaliknya, ketika seorang ibu bahagia dia
dapat mengatasi semua masalah yang ada, dan dengan sepenuh hati
bertahan bertahun-tahun mendukung suami belajar. Menjadi bahagia ketika
beragam masalah datang memang sulit, apalagi �terasing� di negeri
orang. Namun, kenyataan diatas menunjukkan bahwa masalah psikologis ibu
merupakan hal yang teramat penting sehingga perlu diupayakan agar ibu
selalu berada dalam kondisi bahagia.
Masalah dan kiat-kiat mengatasinya
Potensi ketidakbahagiaan terutama banyak muncul pada ibu yang di
Indonesia terbiasa bekerja, terbiasa menggunakan jasa pembantu, baby
sitter, atau �kakek-nenek sitter�. Seorang teman bahkan mengatakan
bahwa dirinya merasa bahagia hanya ketika akhir pekan tiba. Karena,
saat inilah suaminya bisa membantu meringankan pekerjaan atau
menyegarkan suasana dengan pergi berlibur. Pada umumnya, para ibu yang
lain pun merasakan hal yang sama. Masalah yang sering menjadi pemicu
kegundahan hati biasanya adalah kejenuhan, anak yang sakit, musim yang
tidak bersahabat, dan masalah ekonomi.
Di negeri Belanda, jasa pembantu dan tempat penitipan anak terbilang
mahal, apalagi untuk kocek mahasiswa. Biaya Kinderopvang (tempat
penitipan anak) sekitar 204 � 270 Euro per full day, per bulan. Jasa
oppas (baby-sitter) 2,27-4,54 Euro per jam. Karena itu tidak ada
seorang pun yang dapat diandalkan selain ibu. Biasanya kondisi ini
menyebabkan ibu terjebak dalam rutinitas mengurus rumah dan keluarga
yang melelahkan dan membosankan. Ibu tidak lagi mempunyai waktu untuk
diri sendiri, dan mengabaikan kepuasan batinnya sendiri. Akibatnya ibu
menjadi sensitif, sering marah, labil, kehilangan kesabaran, dan
terkadang mengabaikan pekerjaan rumah tangga.
Untuk mengatasi keadaan tersebut, saling mendukung antara suami dan
istri sangat diperlukan. Suami harus paham bahwa istri juga membutuhkan
pupuk bagi jiwanya sendiri agar dapat memberikan yang terbaik bagi
keluarga. Suami sebaiknya sesekali meluangkan waktu khusus menggantikan
ibu mengurus anak-anak, supaya ibu dapat keluar rumah sendiri untuk
memperoleh energi baru. Waktu menyendiri ini dapat digunakan ibu untuk
bersosialisasi, bertemu dengan sesuatu yang baru, berjalan-jalan
sendiri, atau kegiatan lain yang dapat membuat ibu merasa tidak
kehilangan privacy nya.
Selain itu, disiplin mengatur waktu penting dilakukan agar tersisa
waktu bagi ibu untuk memuaskan batinnya sendiri, misalnya dengan
membaca buku, menulis, atau melakukan hobi lainnya. Peneguhan positif
yang diucapkan berulang-ulang juga dapat dijadikan obat ketika rasa
jenuh dan bayangan-bayangan negatif bermunculan. Ibu dapat meneguhkan
diri betapa mulianya pekerjaan baru ini, betapa bersyukurnya mendapat
kesempatan seperti ini, atau mengucapkan berbagai peneguhan positif
lainnya.
Pemicu kedua, biasanya terjadi ketika anak sedang sakit. Anak
membutuhkan perhatian tambahan, sementara tugas rumah tangga lain tetap
menanti. Belum lagi Belanda mempunyai peraturan sendiri perihal
kesehatan. Sebelum mendatangi tempat praktek dokter keluarga (huisart),
pasien harus melakukan perjanjian terlebih dahulu. Untuk
penyakit-penyakit yang dianggap ringan biasanya pasien baru bisa
bertemu huisart, sehari atau beberapa hari setelah perjanjian.
Perjanjian yang memakan waktu ini, kadang kala membuat ibu semakin
gelisah.
Selain itu dokter-dokter di Belanda sangat berhati-hati memberikan
obat karena berusaha untuk memberikan pengobatan yang rasional. Jangan
heran bila seorang anak menderita demam beberapa hari tetapi dokter
tidak memberikan obat apapun. Dokter hanya akan menganjurkan untuk
minum banyak cairan. Obat penurun panas pun baru diberikan bila suhu
badan mencapai 40- 41 derajat celsius. Hal ini tentu saja mencengangkan
dan menambah kegelisahan ibu, karena di Indonesia anak yang sakit pada
umumnya terbiasa di bombardir obat-obatan.
Kepercayaan bahwa dokter tidak akan menjerumuskan pasiennya dan
meyakini bahwa pengobatan rasional akan lebih baik bagi anak, akan
sangat membantu menenangkan hati ibu. Pengetahuan mengenai seluk beluk
penyakit seringkali menjadi senjata ampuh untuk memperkuat keyakinan
tersebut. Karena itu, bila kekhawatiran masih saja muncul, ibu dapat
bertanya lebih banyak kepada dokter, atau mencari tahu tentang penyakit
tersebut melalui buku serta internet. Disini akses internet dapat
diperoleh dengan mudah dan murah, 24 jam online, sehingga informasi
lebih mudah didapat. Sistem asuransi kesehatan di negara ini juga
berfungsi dengan baik sehingga masalah biaya pengobatan tidak perlu
menambah beban kekhawatiran. Untuk itu membayar asuransi kesehatan
penting dilakukan karena bila berobat ke dokter tanpa asuransi, biaya
yang dikenakan akan jauh lebih besar.
Masalah ketiga adalah musim yang tidak bersahabat. Cuaca di
Indonesia yang terbilang ramah dan selalu membuat semangat baru saat
mentari terbit, sangat berbeda dengan iklim di sini. Begitu bangun di
pagi hari, mendung sering menggelayut, membuat hati pun diselimuti
kabut. Belum lagi hawa dingin yang menyergap, rasanya enggan untuk
beranjak meninggalkan rumah.
Ketika hati gundah melihat cuaca seperti ini, ibu harus merubah cara
pandang. Di negeri ini cuaca bukanlah penghalang, berdamailah dengan
cuaca. Seorang kawan senasib, selalu menyempatkan diri keluar rumah
dalam cuaca apapun dengan alasan agar tidak marah-marah terus di rumah.
Nyatanya warga Belanda sendiri selalu menyarankan dan melakukan hal
yang sama untuk menghindari rasa bosan.
Masalah keempat terutama terjadi di awal kedatangan, yaitu masalah
ekonomi. Hidup di Belanda bersama keluarga bermodalkan beasiswa PhD
terbilang pas-pasan. Jumlah uang beasiswa tergantung jenis beasiswa
yang diperoleh. Pada umumnya jumlah uang yang didapat berkisar antara
1200-1300 Euro, termasuk biaya housing. Potongan pajak dan asuransi
kesehatan saja sudah cukup besar, apalagi bila mendapatkan rumah yang
sewanya mahal. Harga rumah untuk sebuah keluarga bervariasi mulai dari
500-1000 Euro, tergantung kota tujuan. Tetapi, mencari rumah murah
bukan perkara mudah karena harus antri, dan mengumpulkan sejumlah poin
terlebih dulu.
Pemerintah Belanda sebetulnya memberikan subsidi rumah setiap bulan
dan tunjangan anak (kinderbijslag) per 3 bulan bagi semua orang yang
membayar pajak dan mempunyai resident permit. Namun persyaratan utama
yang diminta adalah sofi number (nomor sosial-fiscal) dari resident
permit si ibu. Sementara pengurusan resident permit sendiri cukup rumit
dan membutuhkan waktu sekira 6 sampai 9 bulan. Alhasil, selama belum
terselesaikan, masalah ini akan sering menjadi pemicu kegelisahan hati.
Tak ada cara lain yang dapat dilakukan selain bersabar dan mencoba
untuk menghemat pengeluaran. Salah satu kiat yang dapat dilakukan untuk
berhemat adalah dengan membeli barang-barang bekas layak pakai.
Barang-barang ini bisa dibeli di toko barang bekas, seperti Mama Mini
untuk yang tinggal di Groningen. Sebagai contoh, harga lemari bekas
yang masih layak pakai bisa dibeli dengan harga 10- 20 Euro, sedangkan
bila membeli dalam kondisi baru, harganya mencapai 50 �100 Euro.
Cara lain menghemat pengeluaran bisa juga dilakukan dengan memakai
barang-barang hibahan dari mahasiswa Indonesia yang sudah selesai
merampungkan masa studinya. Biasanya barang-barang rumah tangga seperti
kulkas, mesin cuci, pembersih debu, peralatan memasak, dan barang lain
akan dihibahkan secara gratis oleh si empunya barang. Selain itu
�window shopping� sebelum berbelanja penting dilakukan. Di pasar
Vismarkt Groningen, harga barang dalam jumlah dan kualitas yang sama
sering dapat diperoleh dengan harga lebih murah di kios yang
bersebelahan. Toko-toko tertentu setiap saat juga selalu mengadakan
aanbeiding (diskon) dengan harga yang jauh lebih murah. Di penghujung
musim panas atau musim dingin, hampir seluruh toko mengadakan
aanbeiding 50-70 % dari harga awal. Bila sedang musim aanbeiding
seperti ini, barang-barang bermerk terkenal pun dapat dibeli dengan
harga terjangkau, bahkan terkadang lebih murah daripada harga di
Indonesia.
Dengan mengetahui masalah dan menjalankan kiat-kiat yang ada,
biasanya kekacauan hati ibu dapat berkurang, sehingga ibu dapat merasa
bahagia bukan hanya ketika akhir pekan saja. Cahaya kebahagiaan yang
dipancarkan ibu setiap hari akan sangat membantu kesuksesan suami
belajar dan juga mengantarkan keberhasilan bagi anak-anaknya di
kemudian hari.
最近のコメント